Biografi; Syaikh Jalaluddin Al Suyuthi
Al
Suyuthi lahir di Cairo setelah Maghrib malam Ahad 1 Rajab 849 H/3
Oktober 1445 M, dan wafat pada 18 Jumadil Awwal 911 H/17 Oktober 1505 M.
Dia adalah seorang ulama besar dan penulis yang produktif dalam
berbagai disiplin ilmu. Nama lengkapnya Jalaluddin Abu Al Fadl
Abdurrahman Ibn Al Kamal Abu Bakar ibn Muhammad Ibn Sabiquddin ibn Al
Fakhr Utsman ibn Nadhiruddin Muhammad Ibn Syaifuddin Khidlr ibn
Najmuddin Abu Al Sholah Ayyub ibn Nashiruddin Muhammad Ibn Al Syaikh
Hammamuddin Al Khudlari Al Suyuthi. Dia hidup pada masa dinasti Mamluk
pada abad ke-15, berasal dari keluarga keturunan Persia yang semula
bermukim di Baghdad, kemudian pindah ke Asyuth.
Hammamudin, kata Al Suyuthi, adalah ahli hakekat dan syaikh thariqah,
sementara nasab Al Suyuthi setelah Hammam merupakan orang-orang
terpandang dan menempati berbagai profesi yang terhormat, ada yang
menjadi pejabat pemerintahan, ada yang menjadi pedagang dan lain-lain.
Namun hanya bapaknya saja yang menekuni bidang ilmu. Bapaknya menjadi
salah seorang guru fikih di tahun (855H/1451 M), ayahnya meninggal
dunia, dan dia kemudian diasuh oleh seorang sufi, teman dekat bapaknya.
Sebagaimana biasanya anak-anak pada zaman itu, Al Suyuthi memulai
pendidikannya dengan pelajaran membaca Al Qur’an dan pendidikan agama
lainnya. Dia hafal Al Quran sebelum berusia 8 tahun, dan setelah itu
hafal kitab Al Umdah, Minhajul Fiqh wal Ushul, dan Alfiyah Ibn Malik.
Ketika berumur 15 tahun, dia telah menguasai berbagai bidang ilmu yang
ia dapatkan dari beberapa orang gurunya, terutama ilmu Fikih dan Nahwu.
Dari satu kota ia pindah ke kota lain untuk menuntut ilmu agama dengan
berbagai cabangnya kepada guru-guru yang terkenal pada saat itu.
Al Suyuthi mulai mengajar bahasa Arab dalam usia yang sangat muda,
kurang dari 16 tahun, yaitu pada awal tahun 866 H/1460 M, dan pada tahun
ini pula dia untuk pertama kalinya menulis buku. Buku pertamanya adalah
Syarah Al Istiadzah wal Basmalah. Buku ini diberi pengantar gurunya,
Syaikhul Islam Ilmuddin Al Bulqini, yang menjadi guru Fiqhnya hingga
wafatnya. Tak hanya sampai disitu Al Suyuthi belajar Fiqh, ia meneruskan
belajarnya kepada putera Al Bulqini, hingga dia diberi ijazah untuk
berfatwa pada tahun 876 H. sepeninggal guru Fiqihnya yang terakhir ini
pada tahun 878 H, Al Suyuthi melanjutkan belajar Fiqihnya dan bidang
Tafsir kepada Syaikhul Islam Syarafuddin Al Manawi.
Dalam bidang Hadits, Al Suyuthi belajar kepada Imam Al Allamah
Taqiyuddin Al Syibli Al Hanafi selama empat tahun. Gurunya ini yang
memberikan pengantar (taqridh) terhadap Syarah Alfiyah Ibn Malik dan
Jam’ul Jawami’ karyanya.
Masih banyak lagi guru-guru Al Suyuthi antara lain: Muhyiddin Al Kafiyaji. Al Suyuthi belajar kepadanya selama empat belas tahun dalam berbagai bidang ilmu, seperti Tafsir, Ushul Fiqh, bahasa Arab dan Balaghah.Ada juga Syaikh Syaifuddin Al Hanafi, yang mengajarnya berbagai kitab, antara lain Al Kasysyaf dan Al Taudlih.
Masih banyak lagi guru-guru Al Suyuthi antara lain: Muhyiddin Al Kafiyaji. Al Suyuthi belajar kepadanya selama empat belas tahun dalam berbagai bidang ilmu, seperti Tafsir, Ushul Fiqh, bahasa Arab dan Balaghah.Ada juga Syaikh Syaifuddin Al Hanafi, yang mengajarnya berbagai kitab, antara lain Al Kasysyaf dan Al Taudlih.
Sesudah menunaikan haji ke Makkah paad tahun 869 H/1463 M, ia kembali
ke Cairo untuk mengabdikan ilmu yang ia terima sebelumnya. Semula ia
menghususkan diri untuk mengajar, ia diangkat menjadi ustadz di Madrasah
Al Syaikhuniyah pada tahun 872 H/1467 M, berdasarkan rekomendasi dari
gurunya Syaikh Al Bulqini. Jabatan sebelumnya dipegang oleh ayahnya
sampai ia meninggal dunia. Selama 12 tahun ia mengabdikan dirinya di
madrasah tersebut, lalu pindah mengajar ke Al Baibarsiyah pada tahun 891
H/1486 M. Madrasah yang baru ini menurut pendapatnya dan juga pendapat
umum waktu itu lebij baik daripada Al Syaikhuniyyah. Di Madrasah ini ia
juga diangkat menjadi ustadz. Akan tetapi karena suatu tindakannya yang
tidak disenangi penguasa, ia dibebastugaskan dari jabatan tersebut pada
tahun 906 H/1501 M. Ia kemudian menetap di Pulau Raudlah di Sungai Nil,
sampai meninggal dunia pada hari Kamis, 9 Jumadil Awwal 911 H.
Karya-karyanya
Disamping aktif mengajar ilmu agama Islam, Al Suyuthi juga banyak menulis buku dalam berbagai ilmu. Aktivitas mengarang ini, sebagaimana telah disebutkan, telah ia mulai sejak berumur 16 tahun. Penguasaannya yang baik atas berbagai cabang ilmu Islam sangat memperlancar penulisan karangan-karangan tersebut. Menurut pengakuannya, sebagaimana yang dikutip oleh Harun, karangannya mencapai 300 judul buku, selain buku-buku yang dimusnahkan sendiri. Namun menurut catatan para sejarawan, buku-bukunya berjumlah 571 buah, baik berupa karya besar dengan halaman yang banyak, maupun buku-buku kecil dan karangan-karangan singkat. Bahkan, dikatakan bahwa Al Suyuthi sangat berjasa dalam menampilkan kembali manuskrip-manuskrip lama yang pada waktu itu telah dianggap hilang.
Disamping aktif mengajar ilmu agama Islam, Al Suyuthi juga banyak menulis buku dalam berbagai ilmu. Aktivitas mengarang ini, sebagaimana telah disebutkan, telah ia mulai sejak berumur 16 tahun. Penguasaannya yang baik atas berbagai cabang ilmu Islam sangat memperlancar penulisan karangan-karangan tersebut. Menurut pengakuannya, sebagaimana yang dikutip oleh Harun, karangannya mencapai 300 judul buku, selain buku-buku yang dimusnahkan sendiri. Namun menurut catatan para sejarawan, buku-bukunya berjumlah 571 buah, baik berupa karya besar dengan halaman yang banyak, maupun buku-buku kecil dan karangan-karangan singkat. Bahkan, dikatakan bahwa Al Suyuthi sangat berjasa dalam menampilkan kembali manuskrip-manuskrip lama yang pada waktu itu telah dianggap hilang.
Diantara karangannya yang terkenal dalam bidang Tafsir dan Ilmu
Tafsir adalah: Tarjumun Al Quran fi Tafsir Al Musnad, Kumpulan hadits
yang berhubungan dengan penafsiran ayat-ayat Al Quran; Al Durr Al
Mantsur fi Al Tafsir bi Al Ma’tsur (Mutira bertebaran dalam penafsiran
berdasarakan Al Quran dan Hadits) 6 jilid; Mufhamat Al Aqran fi
Mubhammat Al Quran (Upaya mencari pemahaman hal-hal yang sama mengenai
ayat-ayat yang tidak tegas dalam Al Quran); Lubab Al Nuqul fi Ashab Al
Nuzul (Hal-hal pokokdalam persoalan sebab-sebab turunnya ayat Al Quran)
yang disusun berdasarkan metode Al Wahidi, namun memuat pula tambahan
materi berdasarkan temuan-temuannya dari Tafsir dan Hadits; Tafsir Al
Jalalain, penyempurnaan sebuah kitab Tafsir yang ditulis oleh gurunya
Jalaluddin Al Mahalli; Majma’ Al Bahrain w a Mathla’ Al Badrain, yang
memaparkan segala permasalahan furu’ dalam Al-Quran, tetapi menurut para
sejarawan mungkin telah hilang atau tak sempat disempurnakan; dan Al
Takhyir fi Ulum Al Tafsir, yang kemudian diperluas dengan judul Al Itqan
fi Ulumul Quran.
Adapun buku-bukunya dalam bidang Hadits dan Ilmu Hadits antara lain
adalah; Jami’ Al Masanid, yang dikenal juga dengan sebutan Jamul Jawami’
dan Al Jamiul Kabir, Al Jami’us Shagir fi Al Hadits Al Basyir fi Al
Hadits Al Basyir Al Nadzir, Iktishar dari Aqwal wa Al Af’al; Kanzul
Ummal fi Tsubut Sunan Al Aqwal wa Al’al, 8 jilid; Al Khashaish Al
Nabawiyyah, sebuah buku tentang sifat-sifat Nabi Muhammad SAW; Al
Ta’qabat Al Maujudat, yang memuat masalah-masalah kritik hadits kemudian
disempurnakan dengan judul Al La’ali Al Mashnu’ah fi Al Ahadits Al
Maudlu’ah.
Dalam bidang bahasa Arab, Al Suyuthi juga menulis beberapa buku,
diantaranya Al Mudzhir fi Ulum Al Lughah dan Al Iqtirah fi Ilm Ushul Al
Nahw wa Jidalih. Ia juga menulis Aysbah wa Al Nadhairfi Al Nahwi. Pada
kesempatan lain ia mengumpulkan hadits-hadits khusus tentang permulaan
ilmu Nahwu dalam Al Akhbar Al Marwiyyah fi Sabab Wadl’ Al Arabiyyah.
Kemudian ia juga memberikan syarah (komentar) terhadap kitab Alfiyyah
Ibn Malik dibawah judul Al Bahjah Al Mardiyyah. Kitab lainnya adalah Al
Faridah fi Al Nahw wal Tashrif wa Al Khath, Jam’ul Jawami’ yang kemudian
diberi komentar sendiri dengan judul Ham’ Al Hamami’ fi Syarah Jamul
Jawami’.
Dalam bidang lain Al Suyuthi juga menulis banyak buku. Dalam bidang
sejarah, ia menulis Badai’ Al Zuhur fi Waqa’ Al Duhur, Tarikh Khulafa’,
dan Husnul Muhadlarah fi Akhbar Mishr wa Al Qahirah.
Kemudian dalam bidang Sastra terdapat Maqamat, Anis Al Jalis, dan
sebagainya. Selanjutnya ia juga diketahui menulis buku-buku yang
berhubungan dengan hari akhirat, kubur dan alam barzakh, dianataranya Al
Tadzkirah bi Ahwal Al Mauta wa Ahwal Al Akhirah, kemudian diberi
komentar dengan judul Syarah Al Shudur fi Syarah Hal Al Mauta wa Al
Qubur, Al Tsabit Inda Tanbit, dan Kitab Ad Durar Al Hisan, Al Hisan fi
Al Ba’ts wa Naim Al Jinan. Bukunya yang terkenal dalam bidang Kaidah
Fiqh adalah Al Asybah wa Al Nadhair fi Qawaid wa Furu’ Fiqh Al Syafii.
Dalam kitab ini, secara gamblang dengan contoh-contoh penerapan, ia
berusaha mejelaskan kandungan Al Qawaid Al Khamsah (Lima Kaidah) yang
berlaku dalam Madzhab Syafi’i, madzhab yang dia anut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar